//
you're reading...
penjajahan

Ah, Rasanya.

Rutinitas ini, kebosanan ini, begitu nyata.
Tak ada rantai tak ada belenggu, tenggelam dan masih bernafas.
Mendesain kehidupan, mendesain kematian, semua yang tercipta.
Hanya lah ilusi, mengejar impian, hanyut dalam kemanjaan.

Seringai – Membakar Jakarta. Pertama kali lagu itu melewati telinga untuk selanjutnya diproses di otak, saya langsung suka. Dengan distorsi yang menghentak dan suara drum yang keras, cukup untuk membuat infeksi kepala miring ke kiri dan ke kanan secara independen. Tanpa disuruh. Dulu lagu itu saya gunakan untuk menaikkan emosi. Menyemangati diri. Untuk membuat tubuh ini bergerak. Untuk membuat akselerasi dadakan.

Rasanya saya sudah lama tidak duduk dan menggerakkan jari di atas papan kunci untuk menulis. Rasanya sulit sekali untuk mengeksekusi yang sudah menjejali kepala. Pekerjaan saya memang membuat tulisan. Tapi tapi dan tapi. Ingin rasanya duduk diam di kamar, dengan lampu yang sudah dipadamkan, cahaya hanya pendaran dari monitor komputer, dan menenggak sebotol anggur empat puluh ribuan. Saat itu mungkin merdeka, setidaknya buat saya.

Sekarang yang membuat lagu itu terdengar keren adalah liriknya.

Redefinisi perbudakan : rasakan tangan mencekik dirimu.
Redefinisi kehidupan : rasakan udara kebebasan.

Saya sudah bergabung dengan jutaan manusia di ibukota yang harus bangun pagi hanya untuk mengantri. Mengantri bus datang dan meloncat tanpa peduli kiri kanan begitu pintu dibuka. Menunggu detik warna merah untuk berganti hijau. Bagaimana “next stop Duren Tiga Shelter. Check your belonging and step carefully” bercampur dengan suara klakson dan maki “Anjiiinngg motor brengseeekk” menjadi simfoni pagi hari. Setiap hari. Itu yang disebut merdeka?

Negara ini juga seharusnya sudah merdeka sejak Bung Karno didampingi Bung Hatta membaca proklamasi enam puluh enam tahun yang lalu. Lalu bandara di Cengkareng diberi nama Soekarno-Hatta untuk menghargai dan menghormati jasa beliau. Kalau sekarang menjadi Soetta, apakah itu untuk menghargai jasbel?

Tongkat estafet kemudian diberikan kepada Susilo Bambang Yudoyono. Seharusnya ia mengisi kemerdekaan. Tapi ia justru dijajah oleh kata yang ia populerkan sendiri yang seharusnya tidak ada: Citra. Citra yang membuat kulit Sinta lebih putih daripada kulit Santi. Negara ini sebenarnya juga masih diperbudak oleh keprihatinan di atas mikrofon.

Untuk kamu yang percaya tuhan mungkin kamu sebenarnya juga belum merdeka. Konsep kemerdekaan pun menjadi bias. Saat kamu merasa tuhan bukan penjajah, tapi sepertinya konsep yang ia miliki sama seperti Belanda atau Jepang. Kamu seperti dipaksa untuk mengerjakan apa yang ia suka. Tidak, kamu tidak akan dicambuk atau dihukum gantung oleh tuhan. Ia punya yang lebih dahsyat. Ada ancaman neraka menunggu di akhir. Neraka yang digambarkan begitu kejam, menantimu saat perbuatan yang disebut olehnya dosa, lebih banyak daripada perbuatan memuji dan menyembahnya.

Tuhan yang memberikanmu tanah yang luas, tumbuhan yang siap dipanen, dan air yang siap minum. Lalu datanglah manusia pertama yang menciptakan kepemilikan. Seharusnya orang itu sudah dibunuh sebelum menciptakan sistem tersebut. Tanah yang luas lalu diberi batas imajiner, buah yang siap panen juga. Kamu harus mengorbankan milikmu untuk mendapatkan apa yang bukan punya kamu. Padahal tuhan memberikannya dengan gratis. Dan tuhan memperbolehkan hal tersebut.

Untuk kamu yang percaya dengan teori evolusi Darwin juga tidak jauh berbeda. Dengan alasan mempertahankan hidup, kamu akan menciptakan keturunan dengan mutasi gen. Agar keturunanmu kelak bisa tetap hidup. Agar spesiesmu tetap menguasai dunia ini. Diperbudak teori ilmu pengetahuan dan ketakutan pada alam dan menjadikan semuanya dalam koridor ilmiah. Sains.

Yah setidaknya saya sudah merdeka dari skripsi. Sudah merdeka dari tuntutan orangtua dan lingkungan untuk segera menyelesaikan kuliah. Walau telat, ya saya sudah merdeka dari tersebut. Meskipun sekarang saya sudah bertemu dengan penjajah baru: deadline kerja.

Ah saya bicara apa.

Mari sini, berdansa denganku: membakar Jakarta. Sekali ini, berdansa denganku.

[Jakarta. 17 Agustus 2011. 18:25 PM. Fikri]

Diskusi

3 Tanggapan to “Ah, Rasanya.”

  1. Keren, Fik. :)

    Posted by gita | September 1, 2011, 10:14 pm

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.