Ada Ang Yan Goan, pria Tiong Hoa yang mengelola surat kabar Sin Po dan mempelopori istilah “Indonesia” untuk pertama kalinya. Ada pula Nio Tiam Sheng, seorang pilot pesawat tempur berdarah Tiong Hoa, yang gugur saat agresi militer Indonesia melawan Jepang di tahun 1939. Ada juga Soe Hok Gie, pemuda Tiong Hoa yang puitis dan juga vokal dalam menyampaikan opininya, yang mungkin hanya dikenal oleh segelintir orang, jika bukan karena film tentangnya meledak di pasaran.
Ada Munir, seorang aktivis kemanusiaan, yang berkas kasusnya hingga saat ini menyangkut entah di meja siapa. Ada Petrus Bima Anugrah, Herman Hendrawan, Suyat, Wiji Thukul, Yani Afri, Sonny, Dedi Hamdun, Noval Al Katiri, Ismail, Ucok Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin, dan Abdun Nasser, para aktivis yang hilang sejak periode Orde Baru, tak pernah kembali hingga sekarang.
Ada Tan Malaka, yang buku-buku berisi pemikirannya tertahan semasa Soeharto menjabat sebagai presiden, hingga baru dikenal masyarakat beberapa dekade terakhir saja. Ada Amir Sjarifoeddin, yang sebagai salah satu pembangkit PKI, lalu dilupakan segala jasa-jasanya terhadap Indonesia.
Ada perjuangan-perjuangan yang tanpa pamrih. Ada peperangan-peperangan yang dihadapi tanpa pernah terpublikasi. Ada nyawa-nyawa yang melayang tanpa pernah jasanya dikenang. Ada pahlawan-pahlawan, yang terlambat dikenali sebagai kawan.
Bulan ini,
SPASI akan menulis tentang perjuangan dan para pahlawan,
yang dilupakan.
***
FIGHT, AND FORGOTTEN!
Diskusi
Belum ada komentar.