Sepasang Mata di Gerbong Kereta

Waktu sudah menuju tengah malam saat aku berjalan menyeret di antara bebatuan rel kereta. Nyeri di tulang kering kaki kanan semakin menjadi ketika ia kupaksa berjalan sedikit lebih cepat lagi. Ini semua karena supir Metromini 049 keparat yang terburu-buru melaju sebelum aku sempat mantap menapakkan kaki ke tanah saat turun tadi.

Jadilah sekarang aku melangkah terseok dengan satu tangan memegangi paha dan sebelah lainnya setengah meremas bagian perut. Ah! Ya, setelah berjalan agak jauh kian terasa laparku. Sekali lagi aku memaki supir Metromini yang membuatku terjatuh hingga pecah sudah sebungkus bakso yang kubeli di dekat kantor sebelum pulang.

Di tengah galaunya isi kepala yang sibuk mengutuk supir Metromini, aku menyadari ada sepasang mata mengintip dari dalam gerbong tua yang sudah pensiun di sudut terbengkalai stasiun Manggarai. Sepasang mata tersebut bukan hal baru bagiku. Lewat sebulan sudah berjalan sejak aku pindah kamar kost ke perkampungan di balik stasiun padat ini.

Masih kuingat kali pertama ia mengintip dari balik lubang gerbong kereta usang, aku lompat terkejut hingga jatuh ke bebatuan tajam di sela jalur kereta. Sesaat kemudian kudengar suara tawa pemilik sepasang mata tersebut, barulah kusadari ia adalah sepasang mata seorang bocah perempuan. Beberapa kali setelahnya, setiap melewati gerbong tua tersebut, selalu kusempatkan berhenti dan membuat beberapa ekspresi muka lucu untuk menghiburnya. Namun tak pernah kudengar lagi suara tawa seperti pertama ia hadir mengejutkanku.

Malam ini ia kembali hadir, namun aku terlalu letih menahan sakit di kaki untuk menyempatkan berhenti. Dengan langkah teramat pelan, aku berjalan melewatinya. Namun belum genap dua langkah melewati gerbong tua tempatnya bersembunyi, kudengar suara ketukan halus dari dalam. Aku berhenti dan melangkah mundur, mendekatkan mataku dengan sepasang mata yang masih mengintip tanpa berkedip.

Aku menatapnya lekat-lekat sambil mengernyitkan dahi. Tiba-tiba sepasang mata tersebut menghilang dan lubang menunjukkan secercah cahaya dari dalam gerbong yang tertutup rapat. Tampak bayangan sepasang lelaki gendut namun tegap dan perempuan berumur yang tubuhnya tak lagi sedap dipandang. Aku terkejut, keduanya tengah bersenggama dengan penuh birahi.

Samar-samar kudengar si lelaki bertanya dengan nafas terengah-engah, “Anakmu gak papa ngeliat kita kayak gini? Aku risih.” Namun perasaan risih si lelaki tidak membuatnya menghentikan genjotan pinggulnya di atas badan si perempuan.

“Tak bisa lihat dia. Buta dari lahir, ” jawab si perempuan juga dengan nafas tersengal.

“Anjing!” Tanpa sadar aku menggumamkan sebuah makian. Rupa-rupanya suaraku tak sepelan dugaan, lelaki berpenampilan seperti preman itu menghentikan gerakannya dan tak berapa lama terdengar suara gaduh ketika ia mengambil pakaiannya dengan cepat. Tanpa berpikir dua kali, aku berlari sekuat tenaga seolah lupa bahwa kaki kananku sedang menahan sakit setengah mati.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah kost. Cepat kukunci kamar dan segera membuka celana dan baju, lalu melemparkan diri ke atas kasur. Siluet pasangan tak bermoral tadi seperti tayangan sebuah film di kepalaku, terus berputar tanpa tombol berhenti. Biadab. Biadab. Biadab. Biadab. Biadab. Biadab. Biadab. Biadab. Seperti sebuah dzikir doa, makian itu terngiang di kepalaku hingga tertidur.

***

Jam stasiun menunjukkan pukul sepuluh malam saat aku berjalan menyusuri rel kereta api. Dalam beberapa puluh meter, aku akan melewati gerbong kereta tua tempat kutemukan sepasang mata yang ternyata milik seorang bocah tuna netra.

Seminggu sudah berlalu sejak kejadian itu, sepasang matanya tak pernah hadir lagi di sana. Kini lubang gerbong usang tersebut telah ditutup rapat oleh potongan kardus Indomie. Harap-harap cemas kulewati lubang tempat ia biasa mengintip. Kutempelkan telinga ke gerbong yang dingin, namun senyap saja yang terdengar dari dalam, kalah dengan riuh aktivitas stasiun yang tertinggal di belakang. Dengan langkah gontai, kulanjutkan perjalanan pulang.

Keesokan pagiku dimulai dengan pikiran yang kalut. Delapan jam penuh aku tidur namun terbangun dengan perasaan lelah tak terkira. Butuh waktu sejam lebih untuk mengumpulkan tenaga berjalan ke kamar mandi dan bersiap-siap berangkat kerja. Akhirnya, pukul sembilan pagi barulah aku berhasil menempatkan pantat di atas sebuah kursi metromini menuju kantor.

Kusandarkan kepala ke besi penyangga di atas kursi, memikirkan bunga tidur semalam. Dalam mimpiku, sepasang mata bulat macam bola tersebut hadir kembali. Ia mengintip dari balik lubang biasa, aku berdiri di depannya seperti biasa. Yang tak biasa adalah dalam mimpi itu, bola matanya tengah meneteskan airmata berwarna merah mirip darah. Kuhapus airmatanya dengan ujung lengan kemeja panjangku, namun semakin deras ia mengalir keluar. Hingga seluruh lengan baju dan telapak tanganku pun berwarna merah berlumur cairan kental yang akhirnya kuyakini benar adalah darah.

Lamunanku terhenti ketika kondektur menyenggol bahuku dengan sedikit kasar untuk meminta ongkos. Kuberikan selembar uang sepuluh ribu ke tangannya dan mendapat kembalian dua lembar uang dua ribu. Pada saat bersamaan,  seorang pria paruh baya bertubuh kurus membawa beberapa jenis koran naik dan mulai menawarkan dagangannya di dalam metromini padat ini. Mataku mendelik, mirip merampas, kuambil sebuah koran yang sedang ia acungkan dan memberinya dua lembar uang dua ribu di tangan. Pandanganku tetiba menjadi kabur dengan genangan air mata saat kubaca headline di halaman depan koran, “Mayat Seorang Wanita dan Gadis 5 tahun Ditemukan Membusuk dalam Gerbong Tua Stasiun Manggarai”.

[Jakarta, 29 Februari 2016] 

*Ini adalah lanjutan dari tulisan berantai SPASI dengan tema lagu pilihan. Setelah mendapat operan dari TOW dengan lagu Sepasang Mata Bola, kali ini saya mengoper giliran ke Saby untuk membuat tulisan dari lagu Agustin Oendari – Selamat Pagi Malam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s